Press Realease
Media Indonesia
Dated: Monday, 14 August 2006
MATAHARI masih enggan menampakkan sinarnya yang hangat pagi itu. Namun, serombongan pecinta Yamaha Scorpio malah sudah cawe-cawe di seputaran Senayan untukmemulai petualangan menuju Tawangmangu, Jawa Tengah.
Tepat pukul 06.00 WIB para bikers itu langsung menyemplak tunggangannya menelusuri kawasan Gatot Subroto untuk kemudian melintasi Bekasi sebelum sampai di Cirebon sebagai etape pertama. Kenyamanan berkendara masih terasa karena hari masih pagi dan belum terlalu banyak kendaraan yang lalu lalang. Sehingga memacu sedikit adrenalin untuk uji kemampuan si ‘kuda besi’ ini.
Namun, lengangnya lalu lintas tidak sertamerta membuat anggota rombongan membejak gas hingga tak menyisakan ruang lagi. Karena secara perlahan kecepatan pun menurun ketika memasuki jalan yang mulai padat.
Tepat pukul 08.00 rombongan memasuki daerah Sadang. Aspal mulus memang menggelitik 20 anggota Scorpio untuk melintasi dengan leluasa. Jarum spidometer pun secara perlahan menunjuk angka 80 hingga 100. Wuiih… lumayan kencang juga. Desiran angin pun terdengar dari sela helm kami.
Setelah menikmati lunch di Cirebon, deru gas motor-motor itu pun mulai terdengar lagi. Sayangnya, jalan pantai utara (pantura) Ja wa tidak terlalu mulus. Sehingga rombongan pun kadang harus meliukliuk menghindari lubang yang mendadak ada di depan. Kendati begitu, Scorpio masih tetap stabil di kecepatan 100 km/jam.
Saat matahari mulai tidak lagi memancarkan sinar garangnya, kami sudah memasuki Kartasura. Persaudaraan yang erat di antara komunitas bikers membuat kami disambut dengan penuh keramahan dari wong Solo.
Sajian khas Solo pun segera berpindah ke perut yang memang sulit diajak kompromi. Perjalanan berlanjut ke Tawangmangu. Jalan yang berkelok-kelok dan menanjak tidak membuat kami kehilangan akselerasi. Bahkan formasi 22 membuat motor seperti kunang-kunang raksasa yang berbaris saat terlihat dari kejauhan. Indah sekali. Hari itu, odometer menunjuk posisi 610 km sejak keberangkatan dari Senayan. Wuuuaaahhh….., lelahnya.
Tantangan mulai terlihat ketika pagi menjelang. Jalur menuju Telaga Sarangan sungguh menggelitik untuk ditaklukkan. Namun, persoalan mulai terlihat ketika jalan menurun. Bayangkan, mesti sudah menggunakan gigi paling rendah, ternyata RPM menunjukkan angka 7000.
Gerungan jelas terdengar seperti raksasa yang tengah mendengkur. Apalagi datang dari puluhan motor serupa. Jangan heran kalau kemudian tercium bau hangus rem di hampir semua motor dan mobil patwal kepolisian.
Tur beberapa waktu lalu itu memang menyenangkan. Namun, kami tidak melupakan bahwa ada banyak saudara-saudara kami yang kurang beruntung. Itu sebabnya rombongan pun mengarah ke YPAC di Jl Slamet Riyadi, Solo.
Sambutan hangat pun diberikan pengurus dan kawan-kawan dari YPAC. Mereka memamerkan kerajinan tangan yangbagus. Bahkan organ tunggal pun mengiring seorang penyanyi yang duduk di atas kursi roda.
Tak banyak yang bisa Yamaha Scorpio Club (YSC) berikan. Perlengkapan sekolah dan sekadar kebutuhan hidup seharihari. Namun, semua itu diberikan dengan ikhlas. Ahh… setitik air pun menggenang di sudut mata.
Kami pun membawa amanat dari pengurus YPAC untuk disampaikan kepada produsen Yamaha, agar mereka dibuatkan sepeda motor roda tiga untuk keperluan harian. “Semoga bantuan ini bisa berguna buat saudara-saudara kami di YPAC,” ujar pimpinan rombongan Siswahjono.
Bukan cuma YPAC yang disambangi. Ketika gempa bumi menghantam Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah. YSC pun langsung bergerak ke lokasi bencana.
Sumbangan senilai Rp4,5 juta pun langsung diberikan kepada para korban gempa. Lagi-lagi Siswahjono menyebutkan tidak banyak yang bisa diberikan YSC. “Namun, itu bukti bahwa kami ikut peduli terhadap penderitaan sesama,” ujarnya.
Setelah melakoni tur yang dipadu dengan bakti sosial ini, akhirnya rombongan pun kembali ke Jakarta melalui Semarang. Total perjalanan yang dilakoni sejumlah anggota YSC ialah 1.390 km. Sedangkan konsumsi bahan bakar rata-rata 1:39.
Siswahjono menambahkan, pihaknya juga ingin menunjukkan pada masyarakat bahwa klub otomotif pun punya kepedulian sosial. “Bukan sekadar hura-hura atau ngumpul tanpa tujuan jelas,” ujarnya.
Eko Suprihatno/S2